Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Membentuk Anak yang Soleh dan Soleha

Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Membentuk Anak yang Soleh dan Soleha

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak terlepas dari peristiwa kurban yang menjadi latar belakang adanya Hari raya Idul Qurban. Perjalanan hidupnya ini memiliki kisah yang mengandung keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam hubungan antara ayah dan anak. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dapat menjadi edukasi berharga bagi suami dan istri.

Khususnya seorang suami yang akan menjadi ayah, tentang cara membentuk dan mendidik anak. Kisah teladan dari kedua ayah dan anak ini dapat dijadikan contoh dalam mendidik anak. Dengan menjadikan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai contoh diharapkan anak-anak dapat tumbuh sebagai anak yang soleh dan soleha. Berikut beberapa keteladanan yang bisa dicontoh:

1. Memperkenalkan Anak Sejak Dini kepada Allah SWT

Alasan mengapa Nabi Ismail begitu ikhlas dirinya dijadikan kurban atas perintah Allah adalah karena Nabi Ismail mempercayai Sang Penguasanya. Tumbuhnya rasa percaya dan taat tersebut tidak terlepas dari pengaruh Nabi Ibrahim.

Sejak dini, beliau telah memperkenal Allah SWT kepada Nabi Ismail a.s. Nabi Ibrahim a.s mengajari dan memperkenalkan sendiri Allah SWT kepada putranya tersebut. Hal itu menjadikan keimanan dan kepercayaan Nabi Ismail a.s. telah dipupuk sejak dini.

2. Tidak Pernah Berburuk Sangka kepada Allah SWT

Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail selanjutnya adalah tidak pernah berburuk sangka kepada Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia berencana bagaimanapun rencana Allah SWT akan lebih baik untuk kehidupan manusia. Mengajarkan anak untuk tidak pernah berburuk sangka kepada Allah SWT. Hal ini dapat melatih dan meningkatkan juga membiasakan rasa ikhlas dalam hati anak.

Baca Juga  Terbukti Ampuh! 5 Cara Menghilangkan Rasa Takut yang Berlebihan Menurut Islam

Contohnya yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang dengan ikhlas melakukan perintah Allah SWT. Dimana Nabi Ibrahim ikhlas memberikan anaknya untuk disembelih. Nabi Ismail pun ikhlas untuk disembelih atas perintah Allah SWT.

3. Percaya bahwa Anak juga Milik Allah SWT

Ketika Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail, sebenarnya yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim a.s. saat itu bukanlah putranya. Rasa kepemilikannya sebagai ayah terhadap Nabi Ismail a.s. Karena Nabi Ibrahim percaya bahwa segala sesuatu yang dimiliki dunia merupakan titipan semata dari Allah SWT. Jadi, beliau merasa ikhlas jika titipan itu harus kembali kepada Allah SWT termasuk Nabi Ismail a.s.

Pemikiran ini ada baiknya diterapkan dalam benak setiap orang tua baik ayah maupun ibu. Anak adalah titipan sekaligus anugerah dari Allah SWT. Jadi, perlu dipelihara sebaik-baiknya karena anak adalah titipan. Hanya saja, orang tua tidak memiliki hak atas hidup anak, hak manusia atas kehidupan baik sebagai istri, suami, maupun anak adalah milik Allah SWT.

4. Memberikan Ruang Bagi Anak untuk Berpendapat

Ketika Nabi Ibrahim a.s. mendapatkan perintah untuk menyembelih Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tidak serta merta mengambil keputusannya sendiri. Beliau memanggil Nabi Ismail dan menanyakan kesediaannya untuk menjalankan perintah ini. Hal ini mencerminkan bahwa Nabi Ibrahim sebagai orang tua juga memberikan ruang bagi anaknya untuk mengutarakan pendapatnya.

Jadi, sangat penting karena anak sebagai individu pastilah juga memiliki pikirannya sendiri. Pemikiran tersebut ada baiknya didengarkan dan dipahami oleh para orang tual

5. Menghargai Anak sebagai Individu

Di sisi lain beliau sebagai nabi, sebagai ayah, Nabi Ibrahim adalah sosok anak yang tidak hanya menyayangi anak-anaknya namun juga menghargai mereka. Terutama ketika Nabi Ismail sudah beranjak dewasa dan telah menjadi individu dengan pemikirannya sendiri. Beliau selalu mengajak Nabi Ismail berdiskusi dulu sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga  Teladan dari Abdurrahman bin Auf, Kisah Sahabat Nabi yang Miskin Jadi Kaya

Nabi Ibrahim selalu menanyakan pendapat Nabi Ismail, sangat demokratis. Hal ini dikarenakan, Nabi Ibrahim tidak hanya menganggap Nabi Ismail sebagai anak, melainkan orang dewasa yang memiliki pemikiran dan keinginan juga siap membuat keputusan.

Itulah keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang bisa dijadikan edukasi dalam mendidik anak. Menjadikan kedua figur ini sebagai teladan, anak dapat tumbuh sebagai anak yang soleh dan soleha. Anak-anak yang soleh dan soleha membawa manfaat bagi orang tuanya di dunia maupun akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *