Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Skripsi Jurusan PGSD

Pada kempatan kali ini kami akan memberikan Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Skripsi Jurusan PGSD yang dapat kalian pelajari untuk menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir mahasiswa, berikut adalah 3 contoh latar belakang yang dapat kami berikan : 


3 Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Skripsi Jurusan PGSD




  • Latar Belakang Masalah



Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia agar

dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Pendidikan

mengemban tugas untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas

bagi pembangunan bangsa dan negara. Selain itu, pendidikan juga berperan

penting dalam rangka mengembangkan kehidupan manusia dan meningkatkan

kemajuan suatu negara.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dalam

Bab IV Pasal 3 telah dijelaskan fungsi dan tujuan pendidikan yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengemban kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan nasional akan dapat dicapai bila didukung oleh seluruh

lapisan masyarakat. Upaya pemerintah dalam mewujudkan tercapainya tujuan

pendidikan nasional yaitu dengan diselenggarakanya pendidikan melalui

 tiga jalur sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 13 ayat (1) yang

berbunyi: “jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan

informal”. Pendidikan formal diselenggarakan dalam bentuk sekolah dan

perguruang tinggi. Pendidikan nonformal diselenggarakan di dalam masyarakat

dalam bentuk kursus, TPA, dan sebagainya, sedangkan pendidikan informal

merupakan jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan bisa diperoleh

melalui lembaga-lembaga pendidikan formal, nonformal dan informal mulai dari

pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Lembaga pendidikan sesuai dengan

fungsinya mempunyai peranan yang penting untuk mencetak atau melahirkan

sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sehingga mampu mengembangkan

peranannya dalam pembangunan nasional. Lembaga pendidikan diharapkan

mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada

akhirnya dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang

pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan

madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat. Sardiman A.M. (2009:

65) menyatakan bahwa pada sekolah dasar pendidikan berfungsi memberi bekal

dasar pengembangan kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Pendidikan di sekolah dasar (SD) sangatlah penting bagi peserta didik karena hal

ini merupakan dasar perkembangan pengetahuan yang diperoleh peserta didik.

Pada satuan pendidikan ini, tujuan yang ingin dicapai adalah meletakkan dasar

kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk

hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Berbagai macam ilmu  pengetahuan diberikan kepada peserta didik 

melalui berbagai macam mata pelajaran.

 Ilmu pengetahuan di berikan kepada peserta didik melalui kegiatan

belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar disekolah biasa dilakukan diruang

kelas maupun diluar kelas. Menurut Slameto (2013: 2) “belajar merupakan suatu

proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan

tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamanya sendiri

dalam interaksi dengan lingkunganya.” Menurut Sardiman A.M (2009: 47)

“mengajar merupakan suatu usaha penciptaan kondisi atau sistem lingkungan

yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.”

Kegiatan belajar mengajar direncanakan sedemikian rupa agar dapat mencapai

tujuan. Sardiman (2009: 26) menyatakan bahwa tujuan dari belajar mengajar

ialah: untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan ketrampilan, dan

pembentukan sikap.

Dalam pencapaian tujuan belajar ada beberapa faktor yang

mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut adalah faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik,

sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal dari luar peserta didik.

Salah satu faktor intern yang besar pengaruhnya terhadap belajar adalah motivasi.

Sedangkan faktor ekstern yang besar pengaruhnya terhadap belajar adalah faktor

lingkungan belajar, salah satunya yaitu lingkungan sekolah. Didalam lingkungan

sekolah kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kegiatan belajar mengajar tidak

akan berjalan dengan lancar dan tujuan dari kegiatan tersebut tidak akan tercapai

tanpa adanya motivasi belajar dari peserta didik. Sehingga dapat disimpulkan 

bahwa lingkungan sekolah dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta

didik.

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, tidak semua peserta didik

mampu mengikuti pembelajaran dengan baik atau telah mengikuti pembelajaran

namun mendapatkan hasil belajar yang kurang memuaskan. Pihak sekolah

terutama guru kelas harus segera mencari penyebab dari masalah peserta didik

tersebut. Penyebabnya bisa bermacam-macam diantaranya, peserta didik tersebut

sedang sakit, peserta didik tersebut tidak tertarik dengan pembelajaran karena

kurangnya variasi yang dilakukan oleh guru atau kurangnya media pembelajaran,

terdapat masalah pribadi dan sebagainya.Berarti di dalam diri peserta didik

tersebut tidak terdapatdorongan untuk belajar. Keadaan seperti iniperlu adanya

upaya untuk mendorong peserta didik untuk belajar. Salah satu upaya untuk

mendorong peserta didik belajar yaitu dengan memberikan motivasi kepada

peserta didik.

Menurut Uno (2014: 23) “motivasi belajar adalah dorongan internal dan

eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah

laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung.”

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat memotivasi peserta

didik dalam pembelajaran dikelas. Diantaranya yaitu dengan memberikan

penghargaan, pujian, ataupun dengan memberikan penguatan kepada peserta

didik. Motivasi belajar peserta didik berkaitan erat dengan lingkungan belajar

peserta didik itu sendiri. Lingkungan yang besar dan penting pengaruhnya

terhadap motivasi belajar salah satunya yaitu lingkungan sekolah.

Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

motivasi belajar peserta didik. Lingkungan sekolah seperti para guru, staf

administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi motivasi belajar

peserta didik. Lingkungan sekolah secara fisik meliputi keadaan fisik sekolah,

sarana dan prasarana di dalam kelas, keadaan gedung sekolah dan sebagainya.

Menurut Slameto (2013: 64) “faktor lingkungan sekolah yang mempengaruhi

belajar meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi

siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar

pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.”

Didalam lingkungan sekolah para peserta didik belajar berinteraksi dengan

lingkungan baru diluar lingkungan keluarga. Didalam lingkungan sekolah ini

peserta didik akan berinteraksi dengan sesama peserta didik, guru dan warga

sekolah yang lainya. Namun terkadang ada beberapa peserta didik yang kurang

mampu berinteraksi dengan teman sebayanya ataupun gurunya dikarenakan ia

merasa malu ataupun minder. Hal ini tentunya mampu mempengaruhi motivasi

belajar peserta didik. Apabila hal ini tidak segera ditangani, maka peserta didik

akan mendapatkan hasil belajar yang kurang memuaskan.

Selain adanya interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lain, guru

dan warga sekolah lainya, motivasi belajar peserta didik juga dapat dipengaruhi

metode mengajar yang digunakan guru. 

Guru harus mampu menerapkan metodemetode mengajar 

yang mampu mengaktifkan peserta didik. Metode mengajar

yang tepat dan variatif akan mampu membantu peserta didik untuk memahami

materi pelajaran yang disajikan oleh guru. Dalam menerapkan metode mengajar, 

guru juga memerlukan alat peraga dalam penyajian materi pelajaran. Peyajian

materi pelajaran yang didukung oleh adanya alat peraga akan memudahkan siswa

untuk memahami materi pelajaran. Alat peraga disekolah berkaitan erat dengan

sarana dan prasarana disekolah. Sarana dan prasarana yang kurang memadai akan

mempengaruhi motivasi belajar disekolah.

Salah satu sarana yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa adalah

gedung sekolah. Gedung sekolah yang kurang memadai, terutama pada ruang

kelas atau ruangan tempat belajar dapat mempengaruhi motivasi belajar peserta

didik. Apabila keadaan gedung sekolah kurang mendukung aktivitas belajar

peserta didik, maka pihak sekolah harus segeramengadakanrenovasi.Selain

gedung sekolah, waktu sekolah yang tepat akan memberikan pengaruh yang

positif terhadap belajar peserta didik.

Berkaitan dengan memilih waktu sekolah yang tepat, kedisiplinan

merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap belajar siswa. Peserta

didik yang terlambat masuk kedalam kelas pada saat pelajaran sedang

berlangsung akan mengganggu konsentrasi belajar peserta didik yang lain. Salah

satu upayaagar peserta didik lebih disiplin yaitu dengan cara membuat tata tertib

yang harus dipatuhi oleh siswa dan memberikan sangsi atau hukuman kepada

peserta didik yang melanggar tata tertib tersebut.

Terlepas dari interaksi peserta didik, metode mengajar, sarana dan

prasarana, keadaan gedung, waktu sekolah dan kedisiplinan, kurikulum yang

diterapkan oleh sekolah juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa

disekolah. Dua tahun terakhir kurikulum berganti dari KTSP diganti kurikulum 

2013 kemudian ada beberapa sekolah yang kembali menggunakan kurikulum

KTSP. Penerapan kedua kurikulum tersebut didalam pembelajaran menuntut

seorang guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Hal ini

dapat berpengaruh terhadap kesiapan peserta didik dalam menerima pelajaran,

sehingga tidak jarang ada peserta didik yang mengalami penurunan hasil belajar.

Berdasarkan hasil wawancara pada bulan Februari 2015 terhadap beberapa

guru kelas V di daerah binaan 1 Kecamatan Limpung, diperoleh keterangan

bahwa motivasi belajar peserta didik berbeda-beda, Hal ini dikarenakan oleh

beberapa faktor antara lain, sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran,

keadaan gedung sekolah, kurikulum, dan kedisiplinan. Hal tersebut membuktikan

bahwa lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang cukup penting bagi peserta

didik dalam meraih prestasi belajarnya. Semakin baik lingkungan sekolah maka

semakin memotivasi peserta didik untuk belajar lebih giat dalam meraih prestasi.

Beberapa penelitian terdahulu dengan variabel yang hampir sama dengan

penelitian ini telah banyak dilakukan, antara lain oleh Evi Rahmawati dengan

judul “Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas III

SMP Muhammadiyah 22 Pemulang”. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa

terdapat korelasi yang positif antara lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar

siswa kelas VIII SMPM 22 Pamulang. Artinya lingkungan sekolah berpengaruh

terhadap motivasi belajar siswa disekolah, selanjutnya penelitian yang dilakukan

oleh Dhewanti Indra Murti dengan judul “Pengaruh Lingkungan Sekolah, Peran

Guru Dalam Proses Pembelajaran Terhadap Motivasi Belajar Siswa Mata

Pelajaran Lokal Area Network Di SMK Tamansiswa Jetis Yogyakarta”. Hasil 

penelitian menunjukan bahwa lingkungan sekolah dan peran guru dalam proses

pembelajaran secara bersama-sama memiliki pengaruh bagi motivasi belajar siswa

di SMK Tamansiswa Jetis Yogyakarta.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan judul “Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Motivasi

Belajar Siswa kelas V Sekolah Dasar Di Daerah Binaan 1 Kecamatan Limpung

Kabupaten Batang”



  • Latar Belakang Masalah



Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan

manusia, karena dengan pendidikan kemampuan dan kepribadian manusia dapat

berkembang. Pendidikan menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia.

Pendidikan menyangkut hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan, dan

keterampilan.Melaluipendidikan manusia berusaha meningkatkan dan

mengembangkan serta memperbaiki nilai-nilai, hati nuraninya, perasaannya,

pengetahuannya, dan keterampilannya (Munib, Budiyono, dan Suryana 2012: 25).

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tercantum dalam

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab

II pasal 3 yang menyatakan bahwa:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak 

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan Undang-undang di atas tergambar jelas bahwa pendidikan

mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang berkualitas. Pendidikan

menjadi suatu penentu agar bangsa kita dapat melangkah lebih maju dan dapat

bersaing dengan negara-negara lainnya. Melihat kekayaan alam Indonesia yang

melimpah, sangat disayangkan apabila semua kekayaan alam di Indonesia tidak

dapat diolah dan dimanfaatkan oleh anak Indonesia sendiri. Hal ini terjadi karena

kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu cara untuk

menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu melalui proses

pendidikan yang bermutu pada setiap satuan pendidikan. Mengingat begitu

pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka

peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan secara

berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu

pendidikan tentulah sangat berhubungan dengan masalah proses pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan formal di

sekolah yang di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen seperti guru,

siswa, dan materi pembelajaran (Sumiati dan Asra 2009: 3). 

Komponenkomponen pembelajaran yang saling terintegrasi dengan baik dapat mendukung

terjadinya proses pembelajaran yang efektif.“Pembelajaran dikatakan efektif jika

mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi, serta mengantar

siswa ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal” (Rusman 2011: 325).

Pembelajaran yang efektif dapat dicapai dengan melibatkan siswa secara aktif

agar bergairah dalam pembelajaran. Selain itu, pembelajaran yang efektif perlu 

didukung oleh suasana dan lingkungan belajar yang kondusif. Guru memiliki

peran yang sangat penting dalam menciptakan suasana dan lingkungan belajar

baik di kelas dan atau di ruang praktek/laboratorium. Oleh karena itu, guru

dituntut agar mampu mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran,

mengelola materi dan sumber-sumber belajar, membuat perencanaan

pembelajaran serta menyiapkan sejumlah perangkat pembelajaran yang tepat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kemampuan dalam menguasai dan

menerapkan model pembelajaran. Model pembelajaran adalah bentuk

pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas

oleh guru (Sudrajat, 2008). Dalam model pembelajaran terdapat pendekatan,

strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Oleh karena itu, model

pembelajaran memiliki peran penting dalam mendongkrak keberhasilan

pembelajaran. Dengan menguasai model pembelajaran, guru diharapkan mampu

menyampaikan materi dengan tepat tanpa mengakibatkan siswa bosan, sehingga

hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran diperlukan suatu

kurikulum yang digunakan untuk mengatur proses pendidikan dan kegiatan

pembelajaran di sekolah. Menurut Hamalik (2010: 17) kurikulum merupakan

suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa.

Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, melainkan meliputi

segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan

sekolah, alat pelajaran, perlengkapan, perpustakaan, gambar-gambar, halaman

sekolah, dan lain-lain. Pada jenjang pendidikan dasar khususnya sekolah dasar, 

kurikulum yang digunakan saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terdapat beberapa mata

pelajaran yang harus diajarkan kepada siswa di tingkat sekolah dasar. Salah

satunya yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Bahan kajian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dimaksudkan untuk

mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap

lingkungan alam dan sekitarnya. Dengan memahami lingkungan alam di

sekitarnya diharapkan siswa mampu mengembangkan keterampilan, wawasan dan

kesadaran teknologi dalam kaitannya dengan pemanfaatannya bagi kehidupan

sehari-hari. Hal ini membuat mata pelajaran IPA di sekolah dasar penting bagi

siswa karena kehidupan sehari-hari siswa tidak pernah lepas dari dunia IPA yang

dekat dengan aktivitas kehidupan mereka. Selain itu, pelajaran Ilmu Pengetahuan

Alam di sekolah dasar dapat dijadikan sebagai dasar untuk mempelajari Ilmu

Pengetahuan Alam di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Mengingat pentingnya pelajaran IPA di sekolah dasar, maka dalam

pelaksanaannya diperlukan kemampuan guru dalam mengelola proses

pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat optimal. Namun, pada

kenyataannya pembelajaran IPA di SD selama ini lebih menekankan pada hafalan

materi dan kurang memfasilitasi siswa agar memiliki hasil belajar yang

komprehensif. Siswa dipaksa untuk mengingat berbagai informasi tanpa dituntut

untuk memahami dan menemukan informasi tersebut berdasarkan potensinya.

Permasalahan ini juga dijumpai dalam pembelajaran IPA di SD Negeri 03

Majalangu pada siswa kelas IV. Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi 

terhadap guru kelas IV SD Negeri 03 Majalangu, Ibu Niken Resthiana, diperoleh

informasi bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru atau masih

menggunakan model konvensional dan kurang melibatkan siswa secara aktif.

Selain itu, guru jarang menggunakan media pembelajaran serta belum pernah

menggunakan model pembelajaran yang berpusatpadasiswa, sehingga suasana

pembelajaran menjadi membosankan. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil

belajar siswa. Terbukti bahwa hasil belajar siswa di SD Negeri 03 Majalangu

sebagian besar masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

KKM mata pelajaran IPA di SD Negeri 03 Majalangu sebagaimana yang

ditetapkan yaitu 70. Berdasarkan nilai hasil Ujian Akhir Semester 1 yang

diperoleh bahwa di SD Negeri 03 Majalangu tahun ajaran 2012/2013

menunjukkan keberhasilan ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 48% atau 13

siswa dari jumlah seluruhnya 25 siswa belum mencapai KKM. Oleh karena itu,

diperlukan model pembelajaran yang efektif, menarik, serta dapat membantu

mengembangkan potensi siswa sehingga hasil belajarnya dapat optimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, akan dicoba dengan menerapkan

model pembelajaran mind mapping (pemetaan pikiran). Model pembelajaran

mind mapping memungkinkan siswa mengeluarkan gagasannya dan mencatatnya

secara kreatif dalam bentuk mind map (peta pikiran). Peta pikiran adalah diagram

yang digunakan untuk mewakili kata-kata, ide, dan konsep lainnya yang disusun

disekitar ide utama, Buzan (1974) dalam Wheeldon (2011: 510). Melalui mind

map siswa memetakan konsep-konsep ilmu yang diperoleh dari buku pada

selembar kertas dalam bentuk simbol-simbol, kata-kata, gambar, serta garis-garis 

dengan berbagai warna sehingga dalam hal ini siswa menciptakan media belajar

sendiri. Mind mapping merupakan model pembelajaran dengan teknik mencatat

yang mengembangkan gaya belajar visual. Mind mapping memadukan dan

mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat dalam diri seseorang. Dengan

adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk

mengatur dan mengingat segala bentuk informasi. Adanya kombinasi warna,

simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi

yang diterima. Hal ini menyebabkan siswa dapat memahami materi pelajaran

secara lebih mendalam dan mengingatnya lagi dengan mudah. Selain itu, melalui

model pembelajaran ini, siswa mampu berperan aktif dan bekerjasama dalam

membangun pengetahuannya. Dengan demikian, model pembelajaran mind

mapping diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti berminat untuk mengadakan

penelitian dengan judul “Keefektifan Penggunaan Model Mind Mapping Materi

Sumber Daya Alam terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 03

Majalangu Watukumpul Kabupaten Pemalang”.



  • Latar Belakang Masalah



Memasuki zaman modern seperti sekarang ini, terlebih lagi masalah

globalisasi yang makin kompleks dan meluas, sangat diperlukan persiapan yang

baik. Hermawan et al. (2009: 6.5) mengatakan, ”manusia adalah pencipta

globalisasi, dan manusia itu pula yang harus mengendalikan, menguasai,

memanfaatkan dan mengembangkan globalisasi untuk kepentingan

kehidupannya”. Jadi salah satu hal yang mutlak harus dipersiapkan adalah sumber

daya manusia yang berkualitas. Tantangan globalisasi sangat membutuhkan

sumber daya manusia yang cerdas dan mampu bersaing sehat dalam segala

bidang. Wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut ialah

melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal. Karena

pendidikan memiliki konteks yang sangat luas, menyangkut kehidupan seluruh

umat manusia, dimana digambarkan tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan

suatu kehidupan yang lebih baik (Sadulloh 2004: 59).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional Bab I pasal I menyebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan

akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. 

Pernyataan di atas mengandung arti bahwa pendidikan merupakan usaha sadar

terencana agar peserta didik dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Terkait dengan pelaksanaan pendidikan di Indonesia, pemerintah terus berupaya

melakukan peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Hal ini tercermin

dalam fungsi dan tujuan Pendidikan nasional yang tercantum dalam Undangundang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional bab II pasal 3 yang menyatakan:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan mejadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dengan fungsi dan tujuan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa

tujuan pendidikan yaitu menuju pada suatu perubahan yang lebih baik sesuai

dengan potensi yang dimiliki masing-masing individu. Perubahan itu dapat berupa

perubahan tingkah laku, pengetahuan atau penguasaan konsep, maupun perubahan

sikap. Perubahan tersebut dapat dicapai setelah individu melalui suatu proses

pembelajaran.

Pelaksanaan pendidikan harus berpedoman pada kurikulum yang berlaku.

Kurikulum yang berlaku saat ini di Indonesia ialah Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP). KTSP menekankan pada pendidikan yang didasarkan pada

potensi yang dimiliki oleh setiap daerah, serta disesuaikan juga dengan kebutuhan

masing-masing satuan pendidikan, baik dari tingkat dasar, tingkat menengah

maupun tingkat atas. 

Pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dasar merupakan suatu proses

mempengaruhi siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan,

sehingga terjadi perubahan dalam diri siswa tersebut. Hal tersebut di atas dapat

tercapai melalui adanya suatu proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan

oleh guru bertujuan untuk mengarahkan proses perubahan tingkah laku siswanya,

agar sesuai dengan tingkat perkembangan psikis dan sosial.

Pembelajaran merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat

komponen-komponen yang saling terkait. Sejumlah komponen yang terorganisir

antara lain tujuan pembelajaran, subjek dan objek pembelajaran, materi

pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran atau alat

peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut

pembelajaran (remedial dan pengayaan). Apabila satu dari beberapa komponen

tersebut tidak disertakan, maka proses pembelajaranpun akan terganggu dan tidak

dapat berjalan dengan maksimal

Suatu proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik apabila terjadi

interaksi yang antara pendidik dengan peserta didik. Salah satu komponen yang

terpenting adalah seorang pendidik dalam hal ini guru. Guru merupakan faktor

utama yang menentukan pembelajaran, terutama pembelajaran di kelas, karena

gurulah yang berhadapan langsung dengan siswa di kelas dalam proses

pembelajaran. Oleh sebab itu, seorang guru memiliki suatu kewajiban untuk

menciptakan pembelajaran yang baik. Dalam menjalankan keprofesionalan,

menurut UU N0 14 tahun 2005, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran,

melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi 

hasil pembelajaran. Seorang guru sebagai pendidik dalam proses belajar mengajar

harus memiliki kompetensi tersendiri agar mencapai harapan yang dicita-citakan,

dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada

khususnya. Kompetensi pendidik yang dimaksud meliputi kompetensi pedagogik,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Rifa’i

dan Anni 2009: 7).

Guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif serta menarik

perhatian siswa, sehingga siswa merasa senang dan termotivasi dalam mengikuti

proses belajar mengajar. Pentingnya guru berkreativitas, mengingat bahwa guru

merupakan salah satu sumber belajar bagi siswa di dalam kelas. Terlebih lagi di

sekolah dasar, guru harus mampu berkreativitas dengan melihat kecenderungan

dan karakteristik anak usia sekolah dasar, mereka lebih senang bergerak dan

melakukan sesuatu secara langsung. Guru SD juga dituntut untuk mengusai

seluruh mata pelajaran yang di ajarkan di sekolah. Oleh sebab itu, guru dituntut

untuk mengembangan proses pembelajaran yang inovatif, menantang dan

menyenangkan bagi siswa.

Siswa seharusnya diberi keleluasaan dalam mengembangkan kreativitas

dalam menciptakan atau melakukan sesuatu sesuai dengan bakat, minat, dan

perkembangan fisik serta psikologisnya. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa

dapat berperan sebagai subjek maupun objek pembelajaran. Sebagai subjek yaitu

peserta didik yang sedang belajar dengan berinteraksi dengan teman-temannya,

dengan guru, maupun dengan lingkungan untuk mendapatkan pengalaman dan

perubahan perilaku. Pandangan peserta didik sebagai objek dikarenakan peserta 

didik membutuhkan pengarahan dari pendidik supaya mendapatkan pengalaman

dan perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa siswa menempati posisi

sentral dalam pembelajaran. Guru maupun siswa masing-masing menempati

posisi yang sama penting dalam pembelajaran. Tanpa adanya mereka

pembelajaran tidak dapat terjadi, keduanya harus saling mengisi, agar terjadi

interaksi yang baik antara keduanya, karena interaksi sangat diperlukan dalam

pembelajaran, agar proses pembelajaran dapat berlangsung optimal. Dengen

demikian, dalam pembelajaran hendakanya guru memberikan ruang gerak bagi

siswa untuk dapat berpikir kreatif dan mandiri. Apalagi pembelajaran di sekolah

dasar, yang sangat mengedepankan partisipasi aktif siswa. Mengingat usia sekolah

dasar merupakan awal pembentukan sikap dan watak anak.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran

yang kreatif, menantang, menyenangkan dan bermakna bagi siswa yaitu dengan

menerapkan model pembelajaran. Menurut Daryanto (2010: 187) “dalam inovasi

pembelajaran guru dituntut selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan,

meningkatkan gaya mengajarnya agar ia mampu melahirkan model pembelajaran

yang sesuai dengan tuntutan kelasnya”. Untuk dapat melahirkan suatu model

pembelajaran yang inovatif guru harus memahami karakteristik peserta didik,

kebutuhan peserta didik, lingkungan tempat belajar serta kesesuaian model

pembelajaran yang akan digunakan dengan materi pelajaran. Model pembelajaran

dapat dijadikan pola pilihan, dalam arti guru boleh memilih model pembelajaran

yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan. 

Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan berpengaruh terhadap hasil

pembelajaran yang akan dicapai. Karena dengan penggunaan model pembelajaran

yang tepat akan menghindarkan siswa pada kejenuhan dalam pembelajaran. Siswa

akan memiliki motivasi untuk mengikuti pembelajaran. Motivasi merupakan daya

penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, dalam

mencapai tujuan tertentu (Uno 2012: 3). Motivasi memegang peranan yang

sangat penting dalam menumbuhkan kemauan belajar pada siswa. motivasi belajar

siswa akan mengarahkan siswa dalam pencapaian tujuan belajarnya, sehingga

guru perlu menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi, kreatif dan

lebih berinovasi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Namun, tentunya

penggunaan model pembelajaran juga harus disesuaikan dengan karakteristik

materi yang akan dipelajari dan sesuai dengan karakteristik siswanya, karena

dengan pemilihan model yang tepat akan dapat meningkatkan efektifitas dan

efisiensi proses pembelajaran, sehingga hasil pembelajaran siswapun akan lebih

optimal.

Salah satu mata pelajaran yang menuntut penggunaan model pembelajaran

yang sesuai adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu

pengetahuan alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang diberikan kepada peserta

didik mulai dari tingkat dasar (SD/MI), tingkat menengah (SMP/MTs) serta

tingkat atas (SMA), sehingga dapat dikatakan bahan IPA sebagai mata pelajaran

yang sangat penting, mengingat objek kajian IPA adalah gejala-gejala alam yang

terjadi di sekitar manusia, sedangkan latar telaah IPA adalah alam semesta. 

Pengetahuan tentang alam ini sangat diperlukan manusia untuk keberlangsungan

hidupnya.

Menurut Sutrisno et al. (2007: 1.19) IPA mengandung tiga hal yaitu,

proses, prosedur dan produk. Dalam usaha manusia memahami alam semesta

dapat dikatakan bahwa IPA sebagai proses, karena merujuk suatu aktivitas ilmiah

yang dilakukan para ahli IPA. IPA sebagai prosedur yaitu penggunaan prosedur

yang tepat dalam proses pengamatan, pengetahuan IPA dibangun melalui

penalaran inferensi berdasarkan data yang tersedia. IPA sebagai produk ilmiah

dapat berupa pengetahuan IPA yang dapat ditemukan di dalam buku-buku ajar,

majalah-majalah ilmiah, buku-buku teks, artikel ilmiah yang terbit pada jurnal,

serta pernyataan-pernyataan para ahli IPA.

IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang

fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran

IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Pembelajaran IPA dapat menyebabkan

peserta didik aktif menggali pengetahuannya sendiri berdasarkan pada

pengalaman yang ada di alam. Siswa dapat berinteraksi langsung dengan

lingkungan dan menjadikan lingkungan sebagai objek belajar,

 karena materimateri dalam pelajaran IPA cenderung berhubungan langsung dengan kehidupan

sehari-hari maupun berkaitan dengan alam. Seperti pada materi pesawat

sederhana, dalam materi tersebut memungkinkan guru dapat menggunakan contoh

dari kehidupan siswa di rumah karena masih berhubungan dengan alat-alat yang

biasanya digunakan aleh siswa. Seharusnya siswa turut aktif dalam pembelajaran

baik di dalam maupun di luar kelas dan pembelajaran IPA menjadi salah satu mata 

pelajaran yang menyenangkan karena siswa dapat terlibat langsung. Namun pada

kenyataan yang ditemui, masih banyak siswa menganggap IPA sebagai salah satu

pelajaran yang sulit karena terlalu banyak teori dan fakta yang harus dihafalkan.

Pembelajaran masih bersifat text book, guru tidak menambah sumber belajar lain

yang dapat mendukung. Akibatnya pencapaian tujuan pembelajaranpun masih

jauh dari standar yang telah diharapkan. Permaslahan itulah yang terjadi di

Sekolah Dasar Negeri 3 Selakambang pada siswa kelas V untuk materi pesawat

sederhana.

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan di kelas V SD Negeri 3

Selakambang Kabupaten Purbalingga, diketahui bahwa pembelajaran IPA masih

bersifat klasikal dan kurang variatif. Motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa

yang kurang memperhatikan penjelasan guru dan lebih suka bermain sendiri

dalam pelajaran. Semangat belajarnya masih rendah yang ditandai dengan kurang

kompetitifnya mereka dalam menyambut pertanyaan-pertanyaan dari guru. Siswa

kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat masih

banyak siswa yang mengobrol atau bercerita sendiri saat pelajaran berlangsung.

Siswa kurang antusias dalam mengemukakan pendaptanya di kelas. Sementara itu,

hasil belajar mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana juga tergolong rendah

dan kurang berhasil. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan minimal yang diperoleh

siswa dari test formatif materi pesawat sederhana tahun ajaran 2011/2012. Disana

masih terdapat 11 anak dari 29 anak yang nilainya masih di bawah KKM ≥ 60,

atau 37,93% siswa belum tuntas untuk materi tersebut, yang dapat dikatakan 

bahwa pembelajaran belum berhasil, karena pembelajaran dikatakan berhasil jika

minimal rata-rata ketuntasan belajar siswa ialah ≥ 75% telah mencapai KKM.

Materi pesawat sederhana merupakan salah satu materi dalam mata

pelajaran IPA yang sarat akan muatan konsep-konsep dan harus dikuasai oleh

siswa. Konsep materi pesawat sederhana berhubungan dengan kegiatan-kegiatan

manusia dalam kehidupannya di alam. Hal itu dapat ditelaah dari pengertian

pesawat sederhana itu sendiri yaitu semua jenis alat yang digunakan oleh manusia

utuk memudahkan pekerjaan manusia. Konsep sederhana sendiri, dilihat dari cara

kerja alat tersebut yang sederhana.

Materi tersebut dapat digolongkan atau dikelompokan kedalam empat

jenis, yaitu tuas, bidang miring, katrol dan roda berporos. Di dalam jenis-jenis itu

masih terdapat sub-sub topik yang dapat dipelajari satu-persatu dan dapat diulas

satu persatu. Materi pesawat sederhana mengandung unsur pembagian tugas atau

spesifikasi tugas, karena memang dapat digolongkan menurut jenis-jenisnya.

Melihat kondisi materi pesawat sederhana yang cukup padat, guru kelas

cenderung menyampiakan materi dengan metode yang konvensional, karena

mempertimbangkan alokasi waktu yang terbatas.

Walaupun guru telah lama menyadari bahwa belajar membutuhkan

keterlibatan secara aktif dari siswa, kenyataan masih menunjukkan kecenderungan

yang berbeda. Dalam kegiatan pembelajaran masih tampak adanya kecenderungan

meminimalkan peran dan keterlibatan siswa. Pembelajaran menjadi berpusat pada

guru (teacher centered instruction), guru lebih mendominasi proses pembelajaran

dan bertindak sebagai satu satunya sumber belajar, menyajikan pembelajaran 

dengan metode yang sama dan kurang bervariasi, latihan soal atau drill,

memberikan Pekerjaan Rumah (PR), jarang menggunakan media pendukung,

suasana belajar yang terkesan kaku dan tidak mengadakan variasi pola interaksi

dengan siswa. Guru kurang meperhatikan bagaimana karekteristik siswa yang

dihadapinya.

Guru lebih berperan sebagai satu-satunya sumber belajar, sehingga siswa

cenderung pasif, dan tidak dapat berpikir mandiri. Siswa lebih banyak menunggu

sajian dari guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan,

keterampilan, serta sikap yang harus dikuasainya. Akibatnya siswa menjadi

kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Siswa merasa bosan dan

akhirnya mereka tidak memperhatikan pelajaran. Padahal motivasi merupakan hal

sangat penting yang harus dimiliki oleh siswa dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran dan motivasi merupakan hal yang medorong siswa untuk dapat

beraktivitas. Apabila kondisi pembelajaran yang semacam ini terus terjadi pada

jenjang pendidikan SD, maka akan mengakibatkan sulit tercapainya tujuan

pendidikan dasar yakni meletakkan dasar pengetahuan yang dapat dipakai sebagai

batu pijakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Hal lain yang biasanya kurang diperhatikan pembelajaran ialah bagaimana

karakteristik anak yang dihadapinya. Perlu diingat bahwa karakteristik anak pada

usia sekolah dasar ialah senang bekerja dalam kelompok, senang bermain, senang

bergerak, serta senang melakukan atau memperagakan sesuatu secara langsung

(Sumantri dan Syaodih (2007: 6.3-6.4). Jika memperhatikan hal tersebut, seorang

guru hendaknya dapat menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa 

dapat terlibat langsung dan dapat bekerja dalam kelompok. Dengan

memperhatikan kecenderungan karakteristik materi dan karakteristik anak, guru

dapat menerapkan model pembelajaran yang inovatif agar permasalahan yang

terjadi dapat teratasi dengan efektif dan efisien. Karena agar dapat melahirkan

suatu model pembelajaran yang inovatif guru harus memahami karakteristik

peserta didik, kebutuhan peserta didik, lingkungan tempat belajar serta kesesuaian

model pembelajaran yang akan digunakan dengan materi pelajaran.

Model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang padat

menuntut adanya spesifikasi tugas, serta dengan melihat kondisi karakteristik

siswa SD yang senang bekerja dalam kelompok ialah model group investigation.

Pembelajaran model group investigation merupakan salah satu model

pembelajaran yang menganut paham konstruktivisme dan kooperatif.

Pembelajaran berlangsung dengan cara siswa membangun pengetahuan mereka

sendiri melalui mengidentifikasi sub-sub topik yang didapat oleh setiap kelompok

kerja. Sebagai bagian dari investigasi para siswa mencari berbagai sumber di

dalam maupun di luar kelas (Slavin 2005: 216). Kemudian setelah proses

pelaksanaan belajar selesai, siswa menganalisis, menyimpulkan dan

mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas, agar terjadi diskusi kelas.

Penerapan model group investigation dalam materi pesawat sederhana

yaitu dengan menginvestigasi sub-sub topik yang ada dalam materi, karena materi

pesawat sederhana dapat digolongkan bersadarkan jenisnya atau dapat dibagai

dalam spsifikasi materi. Hal ini sesuai dengan model pembelajaran group

investigation yang mempersyaratkan spesifikasi tugas dari masing-masing 

kelompok. Tiap kelompok mendapatkan topik (permaslahan) yang berbeda.

Dengan group investigation diharapkan siswa dapat mengikuti pembelajaran

dengan senang, mengurangi kejenuhan materi yang terlalu banyak dan

meningkatkan motivasi belajar siswa. Pada akibatnya aktivitas belajar siswa juga

meningkat seiring dengan timbulnya motivasi belajar.

Melalui model group investigation siswa menjadi termotivasi dan aktif

dalam mengikuti pembelajaran. Pembelajaran lebih menarik dan terjadi interaksi

yang baik antara guru-siswa, maupun antar siswa. Siswa dapat mengkontruksi

pengetahuan mereka melalui pemecahan masalah yang mereka dapat dengan

bekerjasama dalam kelompok-kelompok. Dalam pembelajaran ini guru harus

melibatkan siswa dalam memanipulasi kegiatan yang mengarahkan pada

pengembangan konsep melalui kegiatan investigasi dan analisis terhadap

pengalaman. Dengan demikian siswa akan memiliki jiwa sosial dan solidaritas

yang lebih baik. Siswa termotivasi untuk mengembangkan pengetahuannya dalam

menyelesaikan masalah.

Sementara itu, dalam group investigation guru berperan sebagai fasilitator

dan motivator yaitu dengan mengarahkan dan membimbing siswa yang

mengalami kesulitan. Dengan model group investigation guru akan semakin

memahami dan mendalami pembelajaran yang inovatif. Guru harus memahami

langkah-langkah model pembelajaran group investigation. Ada enam tahap yaitu:

tahap identifikasi topik dan pembagian kelompok, merencanakan investigasi,

melaksanakan investigasi, menyiapkan laporan akhir, melaksanakan presentasi,

dan yang terakhir ialah tahap evaluasi. Tentunya guru harus menguasai langkah-

langkah tersebut dengan baik, agar dalam pelaksanaanya sesuai dengan tujuan

yang diharapkan. Sehingga guru akan lebih mempersiapkan dengan matang segala

sesuatu yang diperlukan selama proses pembelajaran. Dengan begitu, kemampuan

guru dalam hal perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran akan meningkat,

seiring dengan pemahamannya terhadap model pembelajaran yang diterapkan.

Dengan kata lain dengan penerapan model group investigation performansi guru

akan semakin baik (meningkat).

Jika keadaan seperti itu terus berlanjut, yaitu siswa termotivasi, tidak

mengalami kejenuhan dalam belajar, tentunya aktivitas merekapun akan

meningkat. Mereka akan terlibat aktif dalam pembelajaran yang dilakukan.

Sementara guru kemampuan pengelolaan kelas maupun perencanaanya

meningkat, maka diharapkan hasil belajar yang diperoleh siswapun akan semakin

baik. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa akan lebih optimal, dan memenuhi

keriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya atau bahkan dapat lebih

dari KKM (kriteria ketuntasan minimum). Apabila hal itu terjadi maka dapat

dikatakan tujuan pembelajaran tercapai.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti bermaksud

mengkaji permasalahan yang terjadi dengan menerapkan model pembelajaran

group investigation untuk membelajarkan materi pesawat sederhana pada siswa

kelas V SD N 3 Selakambang di Kabupaten Purbalingga tahun ajaran 2012/2013.

Peneliti memilih judul “Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation

untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Pesawat Sederhana pada Siswa

Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Selakambang Kabupaten Purbalingga. 

Posting Komentar untuk "3 Contoh Latar Belakang Masalah Proposal Skripsi Jurusan PGSD"